Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...
tidak ada hal besar yang tercipta dengan tiba-tiba