Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Jalan-jalan bersama rekan FK FT Paskab dan dari Kawan-kawan dari Dinas PMD Kab. Tapsel

 

Perjalanan ke Lapangan saat kerja di PNPM

Perjalanan ke Turunan dan Mandalasena

My Life Story (Part-15) Penempatan Tugas di PNPM Mandiri sesuai dengan asal daerah saya. Kabupaten Tapanuli Selatan

Dengan diterimanya SK penempatan saya di Kecamatan Saipar Dolok Hole, perjalanan menuju ke sana terasa seperti pulang kampung karena kebetulan penempatan saya berada dalam satu kabupaten dengan kampung halaman saya. Sebelum memulai tugas, kami para FK/FT baru di Kabupaten Tapanuli Selatan mengikuti pembekalan terlebih dahulu di kabupaten tersebut. Keesokan harinya, bersama Bang Budi, seorang FT dari Sipirok, kami memulai perjalanan menuju ke Kecamatan Saipar Dolok Hole.   Perjalanan dari Sipirok ke Saipar Dolok Hole ternyata cukup menantang. Kami menempuh perjalanan selama hampir dua jam naik sepeda motor, melewati jalan yang berliku dan kadang berat. Meskipun melelahkan, kami bersyukur karena akhirnya tiba di kantor camat Saipar Dolok Hole, di mana kami disambut oleh para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan yang sudah menunggu dengan penuh antusias.   Di kantor camat, kami memperkenalkan diri kepada camat dan bertemu dengan para pengurus PJOK, UPK, dan Penlok yang bertugas di s...

My Life Story (Part-14) Melamar Kerja Sebagai FT pada PNPM Mandiri Perdesaan

Saudara sepupu saya yang baik hati, Armen Siregar, dengan baik hati ingin memberikan kesempatan pekerjaan yang menjanjikan kepada saya sebagai fasilitator Teknik dalam program pemerintah bernama PNPM Mandiri Perdesaan. Pada akhir tahun 2007, kesempatan emas muncul ketika PNPM Mandiri Perdesaan Sumatera Utara membuka lowongan kerja, dan saya memutuskan untuk mengikuti proses seleksinya. Sebelum ikut seleksi saya diajak abanghanda Armen Siregar mempelajari buku buku yang diperoleh dari ibu Supiani Ginting FK Kec. Siabu Mandailing Natal pada saat itu. Saya rajin membaca buku buku tersebut. Berkah dari Allah SWT, saya diterima sebagai fasilitator teknik (FT).   Proses awal saya sebagai FT dimulai dengan mengikuti pembekalan selama 2 minggu di Hotel Dharma Deli Medan. Pelatihan ini tidak hanya mempersiapkan kami secara teknis, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang misi dan tujuan program. Setelah pelatihan selesai, saya ditugaskan di Kecamatan Saipar Dolok Hole, Kabupaten ...

My Life Story (Part-13) Syukuran pada saat Wisuda Sarjana S-1

Acara wisuda kami berlangsung meriah di Hotel Selecta, yang berdekatan dengan Rumah Sakit elit di Kota Medan, Rumah Sakit Gleneagles yang kini bernama Rumah Sakit Colombia. Kedua orangtua saya turut hadir, bersama beberapa saudara dari kampung dan kota Medan.   Sebagai ungkapan syukur atas gelar yang kami raih, kami mengadakan syukuran kecil di rumah Amattua di Bandar Selamat, bersama keluarga terdekat di sekitar Medan. Di acara tersebut, kami disajikan hidangan istimewa berupa ayam dengan potongan besar dan telur ayam rebus, sebagai simbol keberkahan dan keberhasilan.   Setelah meraih gelar ST, perjalanan mencari pekerjaan yang sesuai tidaklah mudah. Saya memulai karir di bidang teknik sipil dengan bekerja di perusahaan konsultan yang bergerak dalam perencanaan dan pengawasan proyek pemerintah. Bersama Bang Syafruddin, yang akrab dipanggil Bang Chap, kami bekerja di kantornya yang terletak di Jalan Gandhi, Medan.   Saat itu, saya belajar banyak tentang dunia profes...

My Life Story (Part-12) Perjuangan Sulit Kuliah sambil bekerja akhirnya membuahkan hasil menjadi Sarjana S-1

Perkuliahan di kampus terus berjalan rutin seperti biasanya, meski kadang-kadang saya khawatir pekerjaan saya akan mengganggu. Namun, berkat keanggotaan saya di koperasi Organisasi Muhammadiyah ranting Bantan Timur, masalah uang kuliah bisa teratasi dengan mudah. Koperasi ini memberikan kemudahan dalam pinjaman uang kuliah, dengan cicilan yang sangat terjangkau. Sebagai contoh, untuk pinjaman 1.000.000 rupiah, saya hanya perlu membayar cicilan sebesar 110.000 rupiah per bulan selama 10 bulan. Lebih dari itu, setiap tahun kami juga mendapatkan bagi hasil dari koperasi tersebut. Dengan bantuan koperasi ini, beban biaya kuliah saya menjadi jauh lebih ringan, cukup dengan menyiapkan 110.000 rupiah setiap bulannya.   Namun, ada saat-saat sulit selama kuliah saya, terutama ketika teman-teman sudah sibuk mempersiapkan skripsi mereka sementara saya masih belum mendapatkan kesempatan untuk melakukan kerja praktek. Bahkan, saya sempat kesulitan dalam mencari biaya untuk melaksanakan kerja ...

My Life Story (Part-11) Berkah Berjualan di Bulan Ramadhan

Setelah pulang dari kuliah, saya sering menyempatkan waktu untuk berbelanja di Pasar Sentral dan Jalan Palangkaraya. Pukul 18.00, saya langsung bergegas berjualan di depan Sekolah Prayatna di Jalan Letda Sujono, mengingat adanya siswa SMK (SMEA) Prayatna yang pulang pada siang hari.   Dengan kehadiran sepeda motor Honda Astrea Grand, aktivitas berjualan peci dan lobe saat bulan puasa menjadi lebih lancar dan nyaman. Seminggu sebelum Ramadan tiba, saya aktif berjualan di Pemakaman Umum Jalan Halat. Omset penjualan cukup memuaskan, terutama menjelang H-3 Ramadan ketika ibu-ibu yang ziarah kubur ingin membelikan lobe atau peci untuk suami atau anak laki-lakinya.   Bulan Ramadan memberikan berkah tersendiri bagi saya dalam berjualan. Setiap harinya, saya juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi berbagai pasar di sekitar Kota Medan, seperti Percut, Stabat, Deli Tua, Belawan, dan Pangkalan Brandan. Pengalaman ini tidak hanya memperluas jaringan usaha, tetapi juga memberi saya w...

My Life Story (Part-10) Mulai menggeluti Usaha Jualan Mulai Peci sampai Imitasi

Pada bulan Ramadan, saya diperkenalkan oleh saudara sepupu saya, Armen Siregar, kepada seorang senior di UMSU yang bernama Bang Sayuti. Bang Sayuti, selain menjadi mahasiswa, juga berbisnis menjual topi, peci, dan lobe. Lapaknya terletak di pelataran toko di Jalan Pegadaian, Pajak Ikan Lama. Saya pun bertugas menjaga lapaknya selama satu bulan. Pengalaman ini membuka mata saya pada dunia jual-beli musiman yang cukup menjanjikan.   Menjelang Hari Raya, saya memutuskan untuk tidak pulang kampung agar bisa berjualan di pasar malam. Saya memilih untuk menjual walkman mini dan hasilnya cukup menguntungkan untuk biaya kuliah. Meskipun hanya berlangsung sebulan, pengalaman ini memberi saya dorongan besar untuk berwirausaha.   Keberhasilan awal ini mendorong saya untuk mandiri dalam berjualan lobe, tidak lagi tergantung pada lapak milik Bang Sayuti. Keputusan ini juga diiringi dengan saran dan dorongan positif dari Bang Sayuti sendiri.   Sementara menjalani kuliah dan peker...

My Life Story (Part-9) Kuliah sambil menarik Becak Dayung

Di UMSU, saya memilih kuliah masuk siang yang dimulai pukul 14.00, sehingga pagi hari bisa saya manfaatkan untuk menarik becak. Operasional saya berpusat di Pasar Pagi Jalan Bersama dan Pasar / Pajak Firdaus. Di sana, mayoritas pelanggan adalah ibu-ibu yang rutin berbelanja kebutuhan sehari-hari. Mereka adalah pengusaha rumahan yang setia berbelanja setiap harinya.   Selain itu, rutinitas saya juga mencakup mengantar jemput anak sekolah setiap hari dari Gang Matahari ke Sekolah Dasar Muhammadiyah di Jalan Pahlawan, dengan pembayaran ongkos bulanan. Di pasar, saya memiliki pelanggan tetap yang sering kali bersedia menunggu ketika saya sedang mengantar pelanggan lain, menunjukkan kesabaran yang luar biasa.   Kawan kawan saya waktu itu banyak sebagai tukang becak sekaligus kuliah termasuk kawan satu angkatan di UMSU, Arnal, Yassir, Sahrian kuliah di UIN dan Pohan orang sipirok yang belakangan dia jualan di pajak jalan bersama depan kantor pos. Dalam setengah hari, saya bisa m...

My Life Story (Part-8) Mendaftar Kuliah

Niat saya untuk kuliah muncul setelah melihat teman-teman se-kost yang sedang menempuh pendidikan tinggi, ditambah dukungan yang tak henti-hentinya dari sepupu-sepupu saya di Medan. Mereka terus memberi semangat agar saya mendaftar kuliah. Pada tahun 2000, saya mencoba Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), namun belum berhasil. Mungkin karena latar belakang pendidikan saya dari STM, saya merasa belum siap menghadapi soal-soal yang tidak pernah diajarkan di sekolah saya. Saya terutama mengalami kesulitan dengan soal biologi yang tidak pernah saya pelajari saat STM.   Meskipun gagal masuk PTN, saya tidak menyerah. Tahun berikutnya, tepatnya tahun 2001, saya berhasil diterima di perguruan tinggi swasta yang mirip dengan Universitas Sumatera Utara (USU), yaitu UMSU. Modal awal untuk kuliah saya didapat dari hasil tabungan jualan rokok. Untuk memenuhi kekurangan biaya, saya membeli becak dayung bekas sebagai modal usaha selanjutnya.   Pilihan saya untuk menjadi penarik b...

My Life Story (Part-7) Pengalaman menjadi Anak Jalanan

Hari-hari saya lewati tanpa terasa telah satu tahun berjualan rokok keliling di sekitar Pajak Petisah,Medan. Suatu hari sekitar tahun 2001, dua orang dari LSM sosial di Medan datang ke tempat saya. Mereka sedang mendata anak jalanan di sekitar Pajak Petisah, mencatat segala macam profesi seperti penjual rokok keliling, pengamen, pengemis, hingga penyemir sepatu dan tukang becak. Setelah kami didata, kami diberi kartu nama dengan tulisan "Rumah Singgah Peaja (Peduli Anak Jalanan)" lengkap dengan alamatnya di Jalan Amir Hamzah. Kami diundang untuk datang ke sana. Keesokan harinya, saya dan teman-teman pergi ke rumah singgah tersebut. Ternyata tempat itu ramai didatangi oleh anak jalanan untuk makan siang gratis, mandi, atau beristirahat.   Tidak lama kemudian, kami ditawari bantuan untuk pembinaan keterampilan seperti bengkel, mengemudi mobil, dan menjahit. Saya memilih mengikuti kursus mengemudi mobil. Kesempatan ini saya tidak sia-siakan dan saya ikuti dengan senang hati....

My Life Story (Part-6) Pengalaman Selama Jualan Rokok

Menjalani profesi sebagai penjual rokok keliling benar-benar saya tekuni. Seiring waktu, dagangan saya tidak hanya sebatas rokok. Saya mulai menambah produk seperti mancis, tisu, permen, dan bahkan menyediakan layanan isi ulang gas mancis. Lambat laun, pelanggan saya semakin banyak. Pagi hari, saya mengantar rokok kepada pelanggan tetap dan mencatatnya dalam buku khusus. Sore harinya, saya kembali untuk mengutip pembayaran. Beberapa pelanggan bahkan membayar secara mingguan.   Sebelum Pasar Kain Petisah buka, biasanya saya berkeliling di Pajak Pagi yang berlokasi di belakang pasar tersebut. Terkadang, pagi-pagi saya juga berjualan di sekitar Jalan Nibung, terutama di pelataran diskotik yang ada di sana. Namun, sesekali saya mendapat teguran dari pedagang yang menetap di sana karena merasa tersaingi jika saya terlalu lama berdiri di dekat pintu diskotik.   Siang hari, saya sering berjualan di lampu merah Simpang Tiga Iskandar Muda Gatsu. Berjualan di lampu merah memiliki un...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...

My Life Story (Part-4) Mengadu Nasib Merantau ke Medan

Tamat STM / SMK tahun 1999. dikampung tidak ada pekerjaan hanya membantu orangtua kesawah. hampir setengah tahun hingga pada saat lebaran kakak (iboto) anak amattua bernama Masrida hutasuhut pulang kampung menawarkan saya supaya ikut ke medan merantau mengadu nasib dan tawaran iboto tersebut saya terima.   saat itu ayah dan ibu juga merestui saya untuk ikut ito rida yang saat itu kerja di pabrik udang daerah kawasan industri medan (kim). akhirnya saya pun berangkat ke medan. sesampai dimedan saya tinggal disimpang kim dirumah kak donni yang jg saudara dari kampung, anak tulang yang di ujung padang sidimpuan. kebetulan kakak itu punya kamar kost dan saya tinggal disana cuma seminggu. karena tidak jelas tentang kerja di pabrik, akhirnya saya minta sama ito rida diantarkan ke rumah amattua (abang ayah) yang tinggal di bandar selamat. disana juga sama seperti di kim saya nggak juga dapat kerja.   sebulan berlalu tanpa kerjaan di rumah amattua di gang subur bandar selamat (deka...

My Life Story (Part-3) Sekolah Menegah Kejuruan di STM Negeri Padangsidimpuan / SMK N 2 Padangsidimpuan

Tamat dari SMP Negeri Pijorkoling, saya melanjutkan pendidikan ke STM Negeri Padangsidimpuan yang berlokasi di Jalan Sutan Soripada Mulia Sadabuan. Saat itu, saya memilih jurusan Bangunan Gedung karena saya sangat menyukai melihat gambar-gambar kerja saat proyek irigasi Paya Sordang. Kebetulan, base camp proyek tersebut berlokasi di samping rumah kami di kampung. Pengalaman melihat proyek itu sangat menginspirasi saya, dan saya merasa jurusan Bangunan Gedung adalah pilihan yang tepat. Ternyata, jurusan tersebut sangat cocok dengan saya yang hobi menggambar dan berhitung. Saya menikmati setiap pelajaran yang diberikan, mulai dari menggambar teknik hingga menghitung material bangunan. Saya merasa seperti menemukan passion saya di dunia konstruksi. Gambar-gambar kerja yang pernah saya lihat di proyek irigasi Paya Sordang membantu saya memahami pelajaran dengan lebih baik, dan saya merasa lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah.   Awalnya, saya meminta izin kepada ...

My Life Story (Part-2) Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri Pijorkoling

Tamat dari sekolah dasar (SD), saya melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri Pijorkoling (1994-1996). Saat itu, saya dan seorang teman sekampung bernama Sulpanuddin Pulungan didaftarkan bersama-sama. Kami adalah yang pertama dari kampung kami yang bersekolah di sana. SMP Negeri Pijorkoling, yang kini jika tidak salah telah menjadi SLTP Negeri 8 Padangsidimpuan, terletak di wilayah Pemko Padangsidimpuan. Biasanya, dari kampung kami, siswa melanjutkan ke SMP Negeri Sigalangan yang satu kecamatan dengan desa kami. Saya tidak tahu alasan pasti mengapa ayah memutuskan untuk mendaftarkan saya di sekolah tersebut. Mungkin karena daerah sekitar Pijorkoling atau perkebunan PTPN 3 dulunya adalah wilayah tempat ayah berjualan kain saat beliau masih berprofesi sebagai tukang jahit, atau karena saudara Sulpan ada yang mengajar di Sekolah SMP tersebut, sehingga Bapak tersebut termasuk yang merekrut kami kesana melalui orangtua kami. Selama bersekolah di SMP Negeri Pijorkoling, kami berangkat denga...

My Life Story (Part-1) Born in the city and raised in the village

Saya dilahirkan dari keluarga sederhana di Kelurahan Aek Tampang, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, pada hari Rabu, tanggal 25 Maret 1981. Ayah saya berasal dari keluarga petani di Desa Purbatua, Muara Tais, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, sedangkan ibu saya, Boru Lubis, berasal dari Kampung Tobat, Kota Padangsidimpuan. Di Kelurahan Aek Tampang, saya menghabiskan masa kanak-kanak bersama empat saudara kandung saya dari enam bersaudara. Saudara bungsu kami lahir setelah keluarga kami pindah ke kampung. Saya adalah anak kedua dari enam bersaudara. Anak pertama adalah abang saya, Susianto Hutasuhut, kemudian saya, disusul oleh Elida Wati Hutasuhut, Lenni Marlina Hutasuhut, Titi Herlina Hutasuhut, dan yang bungsu, Kosmas Arifin Hutasuhut. Selama tinggal di Kelurahan Aek Tampang, orang tua saya berusaha dengan berjualan kebutuhan sehari-hari di belakang panglong Matahari. Dari cerita ayah, beliau juga sempat memiliki kios jahit pakaian di Pas...