Langsung ke konten utama

My Life Story (Part-12) Perjuangan Sulit Kuliah sambil bekerja akhirnya membuahkan hasil menjadi Sarjana S-1



Perkuliahan di kampus terus berjalan rutin seperti biasanya, meski kadang-kadang saya khawatir pekerjaan saya akan mengganggu. Namun, berkat keanggotaan saya di koperasi Organisasi Muhammadiyah ranting Bantan Timur, masalah uang kuliah bisa teratasi dengan mudah. Koperasi ini memberikan kemudahan dalam pinjaman uang kuliah, dengan cicilan yang sangat terjangkau. Sebagai contoh, untuk pinjaman 1.000.000 rupiah, saya hanya perlu membayar cicilan sebesar 110.000 rupiah per bulan selama 10 bulan. Lebih dari itu, setiap tahun kami juga mendapatkan bagi hasil dari koperasi tersebut. Dengan bantuan koperasi ini, beban biaya kuliah saya menjadi jauh lebih ringan, cukup dengan menyiapkan 110.000 rupiah setiap bulannya. 

Namun, ada saat-saat sulit selama kuliah saya, terutama ketika teman-teman sudah sibuk mempersiapkan skripsi mereka sementara saya masih belum mendapatkan kesempatan untuk melakukan kerja praktek. Bahkan, saya sempat kesulitan dalam mencari biaya untuk melaksanakan kerja praktek tersebut. Beruntung, dukungan yang saya terima dari teman-teman, terutama dari ipar saya Yassir Lubis dan Arnal Maju Simamora, memberi saya semangat baru. 

Akhirnya, saya berhasil menyelesaikan kerja praktek di proyek peningkatan jalan jurusan Pangkalan Susu - Batas Aceh. Seluruh tugas dan tantangan kami atasi bersama-sama, seringkali dalam suasana kos-kosan, khususnya di kamar Yassir. Saya sungguh mengapresiasi dedikasi besar yang diberikan oleh ipar saya, Yassir Lubis, dalam menyukseskan proses penulisan skripsi kami. Untuk mempertahankan semangat dan memfasilitasi konsentrasi, beliau bahkan menyediakan puding dan menyajikan musik non-stop di kamar, meskipun kadang mengganggu istirahat tetangga sebelah, Bang Anto, yang tinggal di kamar sebelah. Arnal pun turut serta begadang di kos-kosan Yassir, meskipun tempat tinggalnya cukup jauh di Jermal 7. 

Alhamdulillah, segala usaha keras kami tidak sia-sia. Bersama teman-teman lainnya, kami meraih kelulusan pada bulan Februari 2007. 

continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...