Oleh: Masyarakat Tapanuli Selatan
Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: bagaimana mungkin akses jalan yang begitu dekat dengan pusat pemerintahan justru luput dari penanganan serius selama bertahun-tahun?
Kronologi yang Menggerus Kepercayaan
Kerusakan
jalan ini bukan terjadi dalam semalam. Sejak sekitar tahun 2021 hingga 2022,
kondisi jalan sudah mulai memburuk. Aspal terkelupas, lubang menganga di
berbagai titik, dan saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur.
Ketika kemarau tiba, debu tebal menggantikan lumpur, mengganggu kesehatan dan
kenyamanan pengguna jalan.
Harapan
sempat tumbuh ketika Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menggulirkan program
proyek multiyears senilai Rp2,7 triliun pada periode 2022–2023. Ruas Sipirok
menuju Arse sepanjang kurang lebih 5,4 kilometer direncanakan menjadi salah
satu prioritas peningkatan. Bahkan, pada 2023, sempat disampaikan bahwa
pekerjaan fisik akan dimulai pada Oktober tahun tersebut.
Namun,
harapan itu tak kunjung menjadi kenyataan.
Memasuki
tahun 2024, proyek multiyears yang digadang-gadang menjadi solusi justru tidak
terealisasi sesuai ekspektasi di ruas Jalan Arse. Isu kendala teknis dan
administrasi mencuat, termasuk persoalan perpanjangan kontrak. Bagi masyarakat,
alasan tersebut mungkin terdengar normatif. Yang mereka rasakan di lapangan
tetap sama: jalan rusak, aktivitas terganggu.
Ketika Rakyat Bergerak Sendiri
Kekecewaan
yang menumpuk akhirnya berubah menjadi aksi nyata. Pada April 2024, masyarakat
bersama unsur swasta, aparat, dan tokoh lokal bergotong royong melakukan
perbaikan darurat. Penimbunan dilakukan di titik-titik terparah sepanjang
kurang lebih 6 kilometer.
Langkah
ini patut diapresiasi sebagai wujud kepedulian dan solidaritas. Namun di sisi
lain, ini juga menjadi potret getir: ketika negara lambat hadir, rakyat dipaksa
mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Perbaikan
swadaya tentu bukan solusi jangka panjang. Tanpa perencanaan teknis yang
matang, jalan akan kembali rusak dalam waktu singkat. Artinya, masyarakat harus
terus mengulang siklus yang sama: memperbaiki, rusak lagi, dan memperbaiki
kembali.
Dampak Nyata di Lapangan
Kerusakan
jalan Arse bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi telah berdampak luas
terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Biaya transportasi meningkat,
distribusi hasil pertanian terganggu, bahkan risiko kecelakaan menjadi ancaman
harian.
Padahal,
Kecamatan Arse dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Tapanuli Selatan.
Ironisnya, daerah yang menopang ketahanan pangan justru terhambat oleh akses
jalan yang tidak memadai. Kondisi ini memunculkan persepsi ketimpangan
pembangunan, di mana sebagian wilayah mendapat perhatian lebih, sementara yang
lain tertinggal.
Saatnya Kepastian, Bukan Janji
Masyarakat
tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya membutuhkan kepastian, kepastian
bahwa jalan yang mereka lalui setiap hari akan diperbaiki secara layak dan
berkelanjutan.
Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara perlu memberikan penjelasan yang transparan terkait
nasib ruas Jalan Arse tersebut. Jika memang
terdapat kendala, maka harus disampaikan secara terbuka, disertai solusi dan
timeline yang jelas. Kepercayaan publik tidak bisa dibangun dengan janji,
melainkan dengan realisasi.
Lebih
dari itu, pembangunan infrastruktur seharusnya berorientasi pada pemerataan,
bukan sekadar proyek. Jalan Arse bukan hanya soal panjang kilometer, tetapi
tentang kehidupan ribuan masyarakat yang bergantung padanya.
Harapan untuk
2027: Jangan Kembali Sekadar Janji
Masyarakat Arse
tidak menutup mata terhadap keterbatasan anggaran maupun dinamika kebijakan.
Namun, mereka berharap ada kepastian nyata ke depan. Salah satu harapan besar
yang kini mengemuka adalah agar pembangunan jalan provinsi ruas Sipirok–Arse
dapat diakomodir secara serius melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2027.
Harapan ini bukan
tanpa alasan. Setelah gagalnya realisasi proyek multiyears, masyarakat
membutuhkan skema pembangunan yang lebih pasti, terukur, dan benar-benar
dilaksanakan hingga tuntas.
Penutup
Jalan
yang rusak mungkin bisa diperbaiki. Namun, kepercayaan yang retak tidak mudah
dipulihkan. Apa yang terjadi di Kecamatan Arse hari ini adalah pengingat bahwa
pembangunan tidak boleh berhenti di atas kertas.
Sudah
saatnya pemerintah hadir bukan sekadar sebagai perencana, tetapi sebagai
pelaksana yang konsisten. Karena bagi masyarakat Arse, SD. Hole dan Aek Bilah,
jalan yang layak bukan lagi harapan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Tahun
2027 diharapkan bukan menjadi bab baru dari janji, melainkan awal dari
realisasi yang nyata.
Komentar
Posting Komentar