Langsung ke konten utama

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

 

Oleh:   Masyarakat Tapanuli Selatan


Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan? 

Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai “jalan seribu lubang”. Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran.


Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian

Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar 8 kilometer. Artinya, kerusakan parah ini terjadi bukan di daerah terpencil yang sulit dijangkau, melainkan di kawasan yang seharusnya menjadi etalase pembangunan daerah.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: bagaimana mungkin akses jalan yang begitu dekat dengan pusat pemerintahan justru luput dari penanganan serius selama bertahun-tahun?

Kronologi yang Menggerus Kepercayaan

Kerusakan jalan ini bukan terjadi dalam semalam. Sejak sekitar tahun 2021 hingga 2022, kondisi jalan sudah mulai memburuk. Aspal terkelupas, lubang menganga di berbagai titik, dan saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur. Ketika kemarau tiba, debu tebal menggantikan lumpur, mengganggu kesehatan dan kenyamanan pengguna jalan.

Harapan sempat tumbuh ketika Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menggulirkan program proyek multiyears senilai Rp2,7 triliun pada periode 2022–2023. Ruas Sipirok menuju Arse sepanjang kurang lebih 5,4 kilometer direncanakan menjadi salah satu prioritas peningkatan. Bahkan, pada 2023, sempat disampaikan bahwa pekerjaan fisik akan dimulai pada Oktober tahun tersebut.

Namun, harapan itu tak kunjung menjadi kenyataan.

Memasuki tahun 2024, proyek multiyears yang digadang-gadang menjadi solusi justru tidak terealisasi sesuai ekspektasi di ruas Jalan Arse. Isu kendala teknis dan administrasi mencuat, termasuk persoalan perpanjangan kontrak. Bagi masyarakat, alasan tersebut mungkin terdengar normatif. Yang mereka rasakan di lapangan tetap sama: jalan rusak, aktivitas terganggu.

Ketika Rakyat Bergerak Sendiri

Kekecewaan yang menumpuk akhirnya berubah menjadi aksi nyata. Pada April 2024, masyarakat bersama unsur swasta, aparat, dan tokoh lokal bergotong royong melakukan perbaikan darurat. Penimbunan dilakukan di titik-titik terparah sepanjang kurang lebih 6 kilometer.

Langkah ini patut diapresiasi sebagai wujud kepedulian dan solidaritas. Namun di sisi lain, ini juga menjadi potret getir: ketika negara lambat hadir, rakyat dipaksa mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Perbaikan swadaya tentu bukan solusi jangka panjang. Tanpa perencanaan teknis yang matang, jalan akan kembali rusak dalam waktu singkat. Artinya, masyarakat harus terus mengulang siklus yang sama: memperbaiki, rusak lagi, dan memperbaiki kembali.

Dampak Nyata di Lapangan

Kerusakan jalan Arse bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi telah berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Biaya transportasi meningkat, distribusi hasil pertanian terganggu, bahkan risiko kecelakaan menjadi ancaman harian.

Padahal, Kecamatan Arse dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Tapanuli Selatan. Ironisnya, daerah yang menopang ketahanan pangan justru terhambat oleh akses jalan yang tidak memadai. Kondisi ini memunculkan persepsi ketimpangan pembangunan, di mana sebagian wilayah mendapat perhatian lebih, sementara yang lain tertinggal.

Saatnya Kepastian, Bukan Janji

Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya membutuhkan kepastian, kepastian bahwa jalan yang mereka lalui setiap hari akan diperbaiki secara layak dan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara perlu memberikan penjelasan yang transparan terkait nasib ruas Jalan Arse tersebut. Jika memang terdapat kendala, maka harus disampaikan secara terbuka, disertai solusi dan timeline yang jelas. Kepercayaan publik tidak bisa dibangun dengan janji, melainkan dengan realisasi.

Lebih dari itu, pembangunan infrastruktur seharusnya berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar proyek. Jalan Arse bukan hanya soal panjang kilometer, tetapi tentang kehidupan ribuan masyarakat yang bergantung padanya.

Harapan untuk 2027: Jangan Kembali Sekadar Janji

Masyarakat Arse tidak menutup mata terhadap keterbatasan anggaran maupun dinamika kebijakan. Namun, mereka berharap ada kepastian nyata ke depan. Salah satu harapan besar yang kini mengemuka adalah agar pembangunan jalan provinsi ruas Sipirok–Arse dapat diakomodir secara serius melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2027.

Harapan ini bukan tanpa alasan. Setelah gagalnya realisasi proyek multiyears, masyarakat membutuhkan skema pembangunan yang lebih pasti, terukur, dan benar-benar dilaksanakan hingga tuntas.

Penutup

Jalan yang rusak mungkin bisa diperbaiki. Namun, kepercayaan yang retak tidak mudah dipulihkan. Apa yang terjadi di Kecamatan Arse hari ini adalah pengingat bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di atas kertas.

Sudah saatnya pemerintah hadir bukan sekadar sebagai perencana, tetapi sebagai pelaksana yang konsisten. Karena bagi masyarakat Arse, SD. Hole dan Aek Bilah, jalan yang layak bukan lagi harapan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Tahun 2027 diharapkan bukan menjadi bab baru dari janji, melainkan awal dari realisasi yang nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...