Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari
Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos
tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar
Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya
berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan
sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar.
Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal
sebesar 100.000 rupiah.
Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.
Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mendapatkan kotak khusus untuk jualan rokok asongan yang disponsori oleh merek rokok Galan. Dengan kotak baru tersebut, saya merasa lebih percaya diri dan sudah sepenuhnya terbiasa dengan profesi sebagai penjual rokok asongan di Pajak Petisah. Keberhasilan ini memberi saya semangat baru untuk terus berjuang dan mengembangkan kemampuan berdagang saya.
Area yang saya jelajahi saat itu meliputi Pajak Petisah, daerah Jalan Nibung, Medan Plaza, lampu merah Simpang Majestik, dan lampu merah Simpang Iskandar Muda Gatsu dekat Medan Plaza. Setiap hari, saya berjalan kaki menyusuri daerah-daerah tersebut, menjajakan rokok kepada para pengendara dan pejalan kaki. Meskipun pekerjaan ini menuntut banyak tenaga dan kesabaran, saya merasa bangga bisa mandiri dan membantu perekonomian keluarga.
continued...

Komentar
Posting Komentar