Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti.
Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil.
Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pernah habis dimakan waktu. Dari tekad itu, lahirlah pencapaian yang membuat hati kami bergetar: dari enam anak, satu anak sudah berhasil meraih gelar S2, empat anak bergelar S1, dan yang tertua menamatkan SMA. Bahkan, tiga dari anak-anaknya kini telah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), sebuah kebanggaan yang lahir dari kesederhanaan dan pengorbanan.
Kini, di masa senja mereka, setiap langkah dan doa kami hanyalah untuk membalas kebaikan mereka berdua. Semoga Allah SWT menjaga kesehatan ayah dan umak, memanjangkan usia dalam keberkahan, dan memberi kami kemampuan untuk terus berbakti. Kami bermimpi dengan izin Allah SWT dapat membawa mereka menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci, menghadiahkan perjalanan penuh makna yang selama ini mereka doakan.
Ayah, Umak… kami bangga menjadi anak-anak kalian. Dan semoga kelak kami dapat meneruskan teladan yang telah kalian wariskan: kesabaran, kerja keras, doa, dan kasih sayang yang tak pernah bertepi.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.



Komentar
Posting Komentar