Langsung ke konten utama

My Life Story (Part-2) Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri Pijorkoling



Tamat dari sekolah dasar (SD), saya melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri Pijorkoling (1994-1996). Saat itu, saya dan seorang teman sekampung bernama Sulpanuddin Pulungan didaftarkan bersama-sama. Kami adalah yang pertama dari kampung kami yang bersekolah di sana. SMP Negeri Pijorkoling, yang kini jika tidak salah telah menjadi SLTP Negeri 8 Padangsidimpuan, terletak di wilayah Pemko Padangsidimpuan. Biasanya, dari kampung kami, siswa melanjutkan ke SMP Negeri Sigalangan yang satu kecamatan dengan desa kami. Saya tidak tahu alasan pasti mengapa ayah memutuskan untuk mendaftarkan saya di sekolah tersebut. Mungkin karena daerah sekitar Pijorkoling atau perkebunan PTPN 3 dulunya adalah wilayah tempat ayah berjualan kain saat beliau masih berprofesi sebagai tukang jahit, atau karena saudara Sulpan ada yang mengajar di Sekolah SMP tersebut, sehingga Bapak tersebut termasuk yang merekrut kami kesana melalui orangtua kami.

Selama bersekolah di SMP Negeri Pijorkoling, kami berangkat dengan naik sepeda melalui jalan inspeksi irigasi Paya Sordang karena irigasi tersebut melewati kampung kami. Sepeda pertama yang ayah belikan untuk saya adalah sepeda mini dengan batang melengkung. Meskipun saya agak minder memakainya, saya tetap bersyukur karena ayah hanya mampu membeli sepeda seperti itu. Saya dan Sulpan setiap hari melewati jalan inspeksi tersebut dari kampung hingga ke bendungan. Suatu pagi, pengalaman tak terlupakan terjadi saat ban sepeda Sulpan terpeleset akibat jalan yang licin setelah hujan. Akibatnya, dia dan sepedanya terjatuh ke sungai, dan dia tidak bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah karena pakaian dan bukunya basah kuyup.

Setiap pulang sekolah, saya diberi tugas oleh ayah untuk menggembala kambing. Dari jam 3 sore hingga menjelang magrib, saya menjaga kambing-kambing tersebut di daerah perkebunan karet milik PTPN 3 yang berbatasan langsung dengan kampung kami. Menggembala kambing bukanlah tugas yang mudah, tetapi itu mengajarkan saya banyak hal, seperti tanggung jawab dan ketekunan. Sering kali, saya membawa buku pelajaran ke ladang dan membaca sambil menjaga kambing-kambing tersebut. Ini adalah cara saya untuk tetap belajar meskipun sedang bekerja.

Melalui semua pengalaman ini, saya belajar tentang kerja keras dan pentingnya pendidikan. Meskipun harus melewati berbagai tantangan, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal yang saya lakukan. Saya sangat berterima kasih kepada ayah yang telah memberikan saya kesempatan untuk bersekolah di tempat yang baik dan juga kepada semua guru yang telah membimbing saya selama ini. Kenangan masa SMP ini akan selalu menjadi bagian berharga dalam hidup saya. 

continued...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...