Pada bulan Ramadan, saya diperkenalkan oleh saudara sepupu saya, Armen Siregar, kepada seorang senior di UMSU yang bernama Bang Sayuti. Bang Sayuti, selain menjadi mahasiswa, juga berbisnis menjual topi, peci, dan lobe. Lapaknya terletak di pelataran toko di Jalan Pegadaian, Pajak Ikan Lama. Saya pun bertugas menjaga lapaknya selama satu bulan. Pengalaman ini membuka mata saya pada dunia jual-beli musiman yang cukup menjanjikan.
Menjelang Hari Raya, saya memutuskan untuk tidak pulang kampung agar bisa berjualan di pasar malam. Saya memilih untuk menjual walkman mini dan hasilnya cukup menguntungkan untuk biaya kuliah. Meskipun hanya berlangsung sebulan, pengalaman ini memberi saya dorongan besar untuk berwirausaha.
Keberhasilan awal ini mendorong saya untuk mandiri dalam berjualan lobe, tidak lagi tergantung pada lapak milik Bang Sayuti. Keputusan ini juga diiringi dengan saran dan dorongan positif dari Bang Sayuti sendiri.
Sementara menjalani kuliah dan pekerjaan utama sebagai penarik becak dayung, pada sekitar tahun 2004, saya mengubah becak dayung tersebut menjadi gerobak jualan pribadi. Saya memilih untuk menjual berbagai barang serba seribu yang sedang populer saat itu, seperti kebutuhan sehari-hari dan berbagai aksesori yang diminati banyak orang.
Dengan tabungan pribadi sebesar 4.000.000 rupiah dan pinjaman 1.000.000 rupiah dari sepupu saya, Hilda Armadhani Hutasuhut, saya akhirnya bisa membeli sepeda motor Honda Astrea Grand. Kehadiran motor ini sangat membantu dalam memperlancar kegiatan kuliah dan juga membantu saya dalam menjalankan bisnis jualan, mengingat jadwal harian saya yang padat.
Setiap pagi, sebelum bel masuk sekolah berbunyi di sekolah di SMK Jambi di Jalan Pertiwi, saya sudah berada di sana, kemudian pada saat jam istirahat saya pindah ke SMK Teladan Jalan Bersama, dan terakhir jam pulang sekolah (siang) di SMU 11 Jalan Pertiwi. Setelah itu, saya bersiap untuk berangkat kuliah, memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
continued...

Komentar
Posting Komentar