Langsung ke konten utama

My Life Story (Part-10) Mulai menggeluti Usaha Jualan Mulai Peci sampai Imitasi



Pada bulan Ramadan, saya diperkenalkan oleh saudara sepupu saya, Armen Siregar, kepada seorang senior di UMSU yang bernama Bang Sayuti. Bang Sayuti, selain menjadi mahasiswa, juga berbisnis menjual topi, peci, dan lobe. Lapaknya terletak di pelataran toko di Jalan Pegadaian, Pajak Ikan Lama. Saya pun bertugas menjaga lapaknya selama satu bulan. Pengalaman ini membuka mata saya pada dunia jual-beli musiman yang cukup menjanjikan. 

Menjelang Hari Raya, saya memutuskan untuk tidak pulang kampung agar bisa berjualan di pasar malam. Saya memilih untuk menjual walkman mini dan hasilnya cukup menguntungkan untuk biaya kuliah. Meskipun hanya berlangsung sebulan, pengalaman ini memberi saya dorongan besar untuk berwirausaha. 

Keberhasilan awal ini mendorong saya untuk mandiri dalam berjualan lobe, tidak lagi tergantung pada lapak milik Bang Sayuti. Keputusan ini juga diiringi dengan saran dan dorongan positif dari Bang Sayuti sendiri. 

Sementara menjalani kuliah dan pekerjaan utama sebagai penarik becak dayung, pada sekitar tahun 2004, saya mengubah becak dayung tersebut menjadi gerobak jualan pribadi. Saya memilih untuk menjual berbagai barang serba seribu yang sedang populer saat itu, seperti kebutuhan sehari-hari dan berbagai aksesori yang diminati banyak orang. 

Dengan tabungan pribadi sebesar 4.000.000 rupiah dan pinjaman 1.000.000 rupiah dari sepupu saya, Hilda Armadhani Hutasuhut, saya akhirnya bisa membeli sepeda motor Honda Astrea Grand. Kehadiran motor ini sangat membantu dalam memperlancar kegiatan kuliah dan juga membantu saya dalam menjalankan bisnis jualan, mengingat jadwal harian saya yang padat. 

Setiap pagi, sebelum bel masuk sekolah berbunyi di sekolah di SMK Jambi di Jalan Pertiwi, saya sudah berada di sana, kemudian pada saat jam istirahat saya pindah ke SMK Teladan Jalan Bersama, dan terakhir jam pulang sekolah (siang) di SMU 11 Jalan Pertiwi. Setelah itu, saya bersiap untuk berangkat kuliah, memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. 

continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...