Langsung ke konten utama

My Life Story (Part-3) Sekolah Menegah Kejuruan di STM Negeri Padangsidimpuan / SMK N 2 Padangsidimpuan




Tamat dari SMP Negeri Pijorkoling, saya melanjutkan pendidikan ke STM Negeri Padangsidimpuan yang berlokasi di Jalan Sutan Soripada Mulia Sadabuan. Saat itu, saya memilih jurusan Bangunan Gedung karena saya sangat menyukai melihat gambar-gambar kerja saat proyek irigasi Paya Sordang. Kebetulan, base camp proyek tersebut berlokasi di samping rumah kami di kampung. Pengalaman melihat proyek itu sangat menginspirasi saya, dan saya merasa jurusan Bangunan Gedung adalah pilihan yang tepat.

Ternyata, jurusan tersebut sangat cocok dengan saya yang hobi menggambar dan berhitung. Saya menikmati setiap pelajaran yang diberikan, mulai dari menggambar teknik hingga menghitung material bangunan. Saya merasa seperti menemukan passion saya di dunia konstruksi. Gambar-gambar kerja yang pernah saya lihat di proyek irigasi Paya Sordang membantu saya memahami pelajaran dengan lebih baik, dan saya merasa lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. 

Awalnya, saya meminta izin kepada ayah untuk ngekos di Padangsidimpuan karena jarak dari kampung ke sekolah cukup jauh, sekitar 20 km. Namun, ayah tidak mengizinkan dengan alasan takut saya terpengaruh oleh anak-anak yang nakal dan tidak fokus belajar. Akhirnya, saya tetap tinggal di rumah dan setiap pagi harus bangun jam 5. Ibu (Uma) sudah mulai memasak untuk sarapan saya sebelum jam 6, karena jika terlambat, saya bisa ketinggalan angkot yang menjemput kami tepat jam 6 pagi. Meski begitu, saya tetap semangat bersekolah setiap hari. 

Selama bersekolah di STM, saya mengalami banyak hal berkesan. Saat kelas tiga, saya diangkat menjadi ketua kelas 3 Bangunan 3. Wali kelas kami saat itu adalah Ibu Dongoran. Menjadi ketua kelas merupakan pengalaman berharga bagi saya karena saya belajar tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Saya berusaha membantu teman-teman sekelas dalam hal akademis maupun non-akademis. Meskipun tugas sebagai ketua kelas cukup menantang, saya merasa bangga bisa mendapatkan kepercayaan dari teman-teman dan guru. 

Saya tamat dari STM Negeri Padangsidimpuan pada tahun 1999. Pengalaman selama di STM memberikan saya banyak pelajaran berharga yang tidak hanya berguna di bidang akademis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Saya sangat berterima kasih kepada orang tua saya, terutama ayah, yang selalu memberikan dukungan dan nasihat meskipun dengan cara yang tegas. Kisah ini adalah bagian penting dalam perjalanan hidup saya yang akan selalu saya kenang. 

continued...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...