Langsung ke konten utama

My Life Story (Part-9) Kuliah sambil menarik Becak Dayung



Di UMSU, saya memilih kuliah masuk siang yang dimulai pukul 14.00, sehingga pagi hari bisa saya manfaatkan untuk menarik becak. Operasional saya berpusat di Pasar Pagi Jalan Bersama dan Pasar / Pajak Firdaus. Di sana, mayoritas pelanggan adalah ibu-ibu yang rutin berbelanja kebutuhan sehari-hari. Mereka adalah pengusaha rumahan yang setia berbelanja setiap harinya. 

Selain itu, rutinitas saya juga mencakup mengantar jemput anak sekolah setiap hari dari Gang Matahari ke Sekolah Dasar Muhammadiyah di Jalan Pahlawan, dengan pembayaran ongkos bulanan. Di pasar, saya memiliki pelanggan tetap yang sering kali bersedia menunggu ketika saya sedang mengantar pelanggan lain, menunjukkan kesabaran yang luar biasa. 

Kawan kawan saya waktu itu banyak sebagai tukang becak sekaligus kuliah termasuk kawan satu angkatan di UMSU, Arnal, Yassir, Sahrian kuliah di UIN dan Pohan orang sipirok yang belakangan dia jualan di pajak jalan bersama depan kantor pos.

Dalam setengah hari, saya bisa mengumpulkan pendapatan sekitar 15.000 hingga 20.000 rupiah. Setelah selesai di pasar, sekitar jam setengah satu siang, saya pulang untuk bersiap-siap berangkat kuliah dengan naik angkot. 

Kehidupan ini mengajarkan saya betapa pentingnya mengatur waktu dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Bekerja sebagai penarik becak tidak hanya memberi penghasilan tambahan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kesabaran dan tanggung jawab. 

continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...