Langsung ke konten utama

My Life Story (Part-6) Pengalaman Selama Jualan Rokok




Menjalani profesi sebagai penjual rokok keliling benar-benar saya tekuni. Seiring waktu, dagangan saya tidak hanya sebatas rokok. Saya mulai menambah produk seperti mancis, tisu, permen, dan bahkan menyediakan layanan isi ulang gas mancis. Lambat laun, pelanggan saya semakin banyak. Pagi hari, saya mengantar rokok kepada pelanggan tetap dan mencatatnya dalam buku khusus. Sore harinya, saya kembali untuk mengutip pembayaran. Beberapa pelanggan bahkan membayar secara mingguan. 

Sebelum Pasar Kain Petisah buka, biasanya saya berkeliling di Pajak Pagi yang berlokasi di belakang pasar tersebut. Terkadang, pagi-pagi saya juga berjualan di sekitar Jalan Nibung, terutama di pelataran diskotik yang ada di sana. Namun, sesekali saya mendapat teguran dari pedagang yang menetap di sana karena merasa tersaingi jika saya terlalu lama berdiri di dekat pintu diskotik. 

Siang hari, saya sering berjualan di lampu merah Simpang Tiga Iskandar Muda Gatsu. Berjualan di lampu merah memiliki untung dan ruginya sendiri. Ketika lampu sudah hijau, terkadang saya belum sempat memberikan kembalian jika jumlahnya kecil, misalnya 1.000 atau 2.000 rupiah. Namun, sering kali pembeli dari mobil pribadi mengatakan, "Sudah dek, kembaliannya ambil saja," sehingga ini menjadi keuntungan bagi saya. Sebaliknya, kerugian terjadi ketika orang memanfaatkan situasi terburu-buru di lampu hijau untuk menipu. Mereka memesan rokok, tetapi memberikan uang rusak, dan karena terburu-buru, saya tidak sempat memeriksa uang tersebut dengan baik. 

Pengalaman-pengalaman tersebut sangat membekas dalam ingatan saya. Setiap hari adalah pelajaran baru tentang cara berinteraksi dengan berbagai macam orang dan bagaimana menghadapi tantangan di lapangan. Ketekunan dan kesabaran menjadi kunci dalam menjalani profesi ini. 

continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...