Menjalani profesi sebagai penjual rokok keliling benar-benar saya tekuni. Seiring waktu, dagangan saya tidak hanya sebatas rokok. Saya mulai menambah produk seperti mancis, tisu, permen, dan bahkan menyediakan layanan isi ulang gas mancis. Lambat laun, pelanggan saya semakin banyak. Pagi hari, saya mengantar rokok kepada pelanggan tetap dan mencatatnya dalam buku khusus. Sore harinya, saya kembali untuk mengutip pembayaran. Beberapa pelanggan bahkan membayar secara mingguan.
Sebelum Pasar Kain Petisah buka, biasanya saya berkeliling di Pajak Pagi yang berlokasi di belakang pasar tersebut. Terkadang, pagi-pagi saya juga berjualan di sekitar Jalan Nibung, terutama di pelataran diskotik yang ada di sana. Namun, sesekali saya mendapat teguran dari pedagang yang menetap di sana karena merasa tersaingi jika saya terlalu lama berdiri di dekat pintu diskotik.
Siang hari, saya sering berjualan di lampu merah Simpang Tiga Iskandar Muda Gatsu. Berjualan di lampu merah memiliki untung dan ruginya sendiri. Ketika lampu sudah hijau, terkadang saya belum sempat memberikan kembalian jika jumlahnya kecil, misalnya 1.000 atau 2.000 rupiah. Namun, sering kali pembeli dari mobil pribadi mengatakan, "Sudah dek, kembaliannya ambil saja," sehingga ini menjadi keuntungan bagi saya. Sebaliknya, kerugian terjadi ketika orang memanfaatkan situasi terburu-buru di lampu hijau untuk menipu. Mereka memesan rokok, tetapi memberikan uang rusak, dan karena terburu-buru, saya tidak sempat memeriksa uang tersebut dengan baik.
Pengalaman-pengalaman tersebut sangat membekas dalam ingatan saya. Setiap hari adalah pelajaran baru tentang cara berinteraksi dengan berbagai macam orang dan bagaimana menghadapi tantangan di lapangan. Ketekunan dan kesabaran menjadi kunci dalam menjalani profesi ini.
continued...

Komentar
Posting Komentar