Langsung ke konten utama

My Life Story (Part-4) Mengadu Nasib Merantau ke Medan



Tamat STM / SMK tahun 1999. dikampung tidak ada pekerjaan hanya membantu orangtua kesawah. hampir setengah tahun hingga pada saat lebaran kakak (iboto) anak amattua bernama Masrida hutasuhut pulang kampung menawarkan saya supaya ikut ke medan merantau mengadu nasib dan tawaran iboto tersebut saya terima. 

saat itu ayah dan ibu juga merestui saya untuk ikut ito rida yang saat itu kerja di pabrik udang daerah kawasan industri medan (kim). akhirnya saya pun berangkat ke medan. sesampai dimedan saya tinggal disimpang kim dirumah kak donni yang jg saudara dari kampung, anak tulang yang di ujung padang sidimpuan. kebetulan kakak itu punya kamar kost dan saya tinggal disana cuma seminggu. karena tidak jelas tentang kerja di pabrik, akhirnya saya minta sama ito rida diantarkan ke rumah amattua (abang ayah) yang tinggal di bandar selamat. disana juga sama seperti di kim saya nggak juga dapat kerja. 

sebulan berlalu tanpa kerjaan di rumah amattua di gang subur bandar selamat (dekat sekolah Budi satrya), saat itu saya sempat mau pamit pulang ke kampung karena sudah merasa gagal merantau. tapi karena arahan dan bimbingan dari amattua dan inantua akhirnya saya memutuskan untuk tetap bersabar dan menunggu hingga dapat pekerjaan. 

hingga suatu saat inantua berkunjung ke tempat inattobang di jalan bersama (Gang Sembada), kebetulan inantua melihat dirumah tobang tersebut banyak anak lajang sebaya saya, ada niat inantua menanyakan mengenai pekerjaan anak anak kos tersebut. rupanya anak anak kos disana sebagian besar kerjaannya berdagang jualan rokok asongan di pajak (pasar) petisah. 

continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...