Langsung ke konten utama

Anak Kecil yang Menghidupkan Suara-Suara Hutan di Lopo Kopi Sayur Matinggi

Beberapa hari menjelang persiapan MTQ Tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan, MTQN ke-50 tahun 2018 yang digelar di Desa Aek Badak Jae. Suasana di Kecamatan Sayur Matinggi dipenuhi kesibukan. Jalan-jalan mulai ramai, tenda-tenda persiapan berdiri, dan masyarakat saling bahu-membahu menyukseskan acara besar tersebut. Namun, di balik hiruk pikuk kegiatan itu, ada satu momen kecil yang begitu unik dan tak disangka-sangka meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang melihatnya.

Di sebuah warung sederhana, kedai lopo kopi yang menjadi tempat persinggahan warga, hadir seorang anak yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Bukan karena tingkah nakal atau kelucuan biasa, tetapi karena kemampuannya yang luar biasa dalam menirukan suara binatang.

Awalnya, suasana warung seperti biasa saja. Orang-orang duduk ngopi, berbincang soal persiapan acara, sambil sesekali membahas kegiatan di lapangan MTQ. Namun tiba-tiba, dari sudut meja, terdengar suara kokokan ayam yang begitu mirip, sampai-sampai beberapa orang spontan menoleh ke luar warung untuk memastikan tidak ada ayam lewat.

Selang beberapa detik, suara tersebut disusul oleh lenguhan sapi yang hampir persis seperti aslinya, lalu suara kucing mengeong, burung berkicau, suara kambing bahkan suara pluit yang membuat semua pengunjung tertawa terpingkal. Yang lebih mengejutkan, semua suara itu berasal dari seorang anak kecil yang tampak pemalu namun percaya diri saat diminta mengulangi suaranya.

Anak itu menirukan suara-suara hewan dengan tingkat kemiripan yang hampir membingungkan. Mulutnya, intonasinya, ritme suaranya, semuanya seperti sudah ia pelajari bertahun-tahun.

Tidak butuh waktu lama, suasana warung yang tadinya tenang berubah menjadi ceria. Orang-orang yang tadinya hanya numpang ngopi kini duduk lebih lama. Tawa dan tepuk tangan terdengar setiap kali sang anak menunjukkan suara baru. Ada yang sampai merekam dengan ponsel, termasuk saya.

Warung itu seolah berubah menjadi panggung kecil, dan anak itu menjadi bintang utamanya.

Melihat wajah-wajah para bapak-bapak yang tersenyum lebar, pengunjung lain yang tertawa bahagia, dan suasana hangat yang tercipta begitu alami, saya sadar bahwa hal sederhana seperti suara tiruan seorang anak bisa menjadi hiburan yang begitu berharga.

Di tengah kesibukan mempersiapkan MTQN ke-50, di tengah pekerjaan berat dan urusan masing-masing, momen kecil ini seakan menjadi penyegar suasana. Anak itu, dengan kepolosan dan bakat uniknya, membuat semua orang yang hadir di warung itu untuk sejenak lupa lelah.

Kadang, hiburan terbaik bukan dari panggung besar atau acara megah. Justru muncul dari hal yang sederhana, spontan, dan tulus seperti suara ayam dan kambing dari seorang anak berbakat di sebuah lopo kopi di Sayur Matinggi.

Di tengah riuhnya tawa itu, Pak Malik, yang sejak awal memandu atau sebagai "host" bertanya dengan ramah,
Nak, kalau besar nanti kau mau jadi apa?

Dengan polos dan dengan malu-malu anak tersebut menjawab,
Mau jadi pelawak!

Jawaban itu langsung membuat semua orang tersenyum lebih lebar. Ternyata bakat menirukan suara binatang yang menghibur banyak orang itu bukan sekadar iseng. Ia memang punya mimpi-mimpi yang sederhana namun sangat mulia membuat orang lain tertawa dan bahagia.

Sebelum pertemuan itu berakhir, Pak Malik dengan tulus merogoh kantongnya lalu memberikan sejumlah uang kepada sang anak sebagai bentuk apresiasi atas bakat dan keberaniannya.

Anak itu tertegun sejenak, matanya berkaca-kaca, lalu dengan suara pelan namun tulus ia berkata,
Terima kasih, Pak… semoga rezeki Bapak dimudahkan.

Suasana warung yang sebelumnya penuh tawa mendadak berubah menjadi haru. Semua yang hadir bisa merasakan ketulusan doa seorang anak kecil yang begitu polos namun penuh makna. Momen itu menjadi penutup yang indah bagi pertemuan singkat yang tidak direncanakan, namun begitu membekas.

Semoga siapa pun yang membaca atau menonton video tersebut bisa ikut merasakan keceriaan yang sama seperti yang kami rasakan di warung hari itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Kedua Orang Tua Kami

Di rumah sederhana, dikampung purbatua Desa Muara Purba Nauli yang tenang, sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka adalah Ayah dan Uma kami, dua jiwa tangguh yang menenun harapan dengan kerja keras, lalu membungkusnya dengan doa tanpa henti. Ayah kami sosok lelaki pekerja keras yang mencoba setiap jalan demi menafkahi keluarga. Pernah menekuni propesi sebagai penjahit pakaian dan tidak berlanjut karena saat itu terjadi kecelakaan, pernah juga mencoba  berjualan kelontong di rumah sewaktu masih bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan, hingga akhirnya pulang kampung menjadi petani, menggarap sawah orang demi sesuap nasi. Umak kami selalu di sisinya menjadi sandaran hati dan penguat jiwa. Bersama, mereka berjalan di jalan terjal kehidupan dengan keyakinan: kesabaran dan ikhtiar tak akan mengkhianati hasil. Namun bagi mereka, nafkah bukan sekadar mengisi perut. Ada yang lebih penting yaitu pendidikan anak-anaknya. Mereka yakin ilmu adalah bekal yang tak pe...

Jalan Arse Rusak Parah: “Hanya 8 Kilometer dari Kota Sipirok, terabaikan Bertahun-tahun”

  Oleh:    Masyarakat Tapanuli Selatan Jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan yang layak, roda ekonomi berputar, anak-anak pergi ke sekolah, hasil tani diangkut ke pasar, dan pelayanan kesehatan dapat diakses tepat waktu. Namun, apa jadinya jika jalan yang menjadi tumpuan hidup justru berubah menjadi penderitaan?   Itulah yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok menuju Arse, SD. Hole hingga Aek Bilah kini bukan lagi sekadar rusak, melainkan telah memasuki tahap yang memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat bahkan menjulukinya sebagai  “jalan seribu lubang” . Sebuah ironi yang mencerminkan keputusasaan sekaligus sindiran. Dekat Ibu Kota, Jauh dari Perhatian Yang membuat kondisi ini semakin ironis, ruas jalan rusak tersebut berada sangat dekat dengan ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni Kota Sipirok. Jaraknya hanya berkisar sekitar...

My Life Story (Part-5) Jualan Rokok di Pasar Petisah Medan

Dari informasi yang didapat Inantua sepulang dari Jalan Bersama, akhirnya saya ditawari pekerjaan yang sama dengan anak-anak kos tersebut oleh uwak. Tawaran itu adalah untuk berjualan rokok keliling di Pasar Petisah, Medan, dan saya menerimanya dengan antusias. Keesokan harinya, saya berangkat bersama teman-teman ke Pasar Petisah. Sebelum mulai berjualan sendiri, saya sengaja berkeliling mengikuti kawan dua kali mengitari pasar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mencoba profesi tersebut dengan modal awal sebesar 100.000 rupiah. Uang tersebut saya belanjakan untuk membeli sekitar 20 bungkus rokok. Sebagai pemula, kotak rokok saya waktu itu masih berupa kotak Indomie yang diikat dengan tali plastik dan disangkutkan ke leher. Pada awalnya, saya merasa canggung berjalan sambil menyandang kotak rokok tersebut, tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Meskipun tidak mudah, saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman sehari-hari.   Sekitar tiga bulan kemudian, saya berhasil mend...